[Fanfic: ToraxSaga] Wedding Dress

Tittle: Wedding Dress
Author: Me! Haru Sugitani
Pairing: ToraxSaga, ShouxHiroto(slight)
Ratting: PG-15
Warning: gaje, critanya ga mutu!

***

Lonceng dan burung dengan selaras menyanyikan sebuah nyanyian yang menenangkan hati.
Aku sekarang berdiri menatap sepasang manusia yang akan berikrar sehidup semati.
Aku berusaha tersenyum walau sakit hati ini menyaksikan sahabatku Shou yang sejak dulu aku sukai akan menikah dengan Hiroto.
Tapi meskipun begitu aku turut berbahagia atas pernikahan mereka. Mungkin ini memang sudah takdirku untuk melepaskannya.

“hei kapan kita akan menikah?” sebuah kalimat terlontar dari bibir orang disebelahku.
Aku langsung menatapnya dengan sinis, dia malah tersenyum lebar walaupun gigi2nya kurang rapih. Menyebalkan sekali, aku lalu menginjak kakinya.

“aww~” kudengar dia meringis pelan. Rasakan.

“sakit tahu!” ucapnya kesakitan.

“sstt! Bisakah kalian diam sebentar saja?” ucap Nao yg sengaja membalikan badannya kearah kami berdua.

“gomen.” ucap kami berdua secara bersamaan. Iss.. Aku langsung mengalihkan pandanganku kearahnya lagi, kami bertatapan. Aku menatapnya dengan sinis lagi, dan lagi2 dia tersenyum lebar.
Ah sudahlah abaikan saja orang ini.

Aku kembali fokus melihat Shou dan Hiroto di altar.

“apakah kau Kohara Kazamasa menerima Ogata Hiroto sebagai pendamping hidupmu dikala senang ataupun duka, sampai maut memisahkan kalian?” pendeta bertanya pada shou.

“ya, saya bersedia.” ucap shou mantap, begitu pula dengan Hiroto.

“sekarang kalian sudah resmi menjadi sepasang -suami-istri-”

lalu aku, nao dan orang disampingku bertepuk tangan, kini mereka sudah terikat dalam janji pernikahan yang suci.

Selamat tinggal Shou, selamat tinggal cinta pertamaku.

Tanpa kusadari setitik kristal bening menetes dari sudut mata kananku.
Entah ini tangis bahagia karena aku terharu akhirnya mereka bisa menikah juga mengingat perjuangan mereka selama ini, atau kah karena perasaan sakit karena cinta pertamaku menikah dengan orang lain.

Tiba-tiba aku merasakan tangan seseorang merangkulku dan mengelus-ngelus rambutku seakan dia tahu apa yang aku rasakan sekarang. Aku menatapnya. Tapi pandangannya fokus ke arah altar, kearah pengantin baru itu yang sedang melakukan ‘ritual’ pernikahan.

“aku tahu perasaamu kok, kau juga ingin berdiri disana denganku kan?” ucapnya datar tanpa ekspresi.

“aww” lagi2 dia meringis kesakitan setelah aku injak kakinya untuk ke 2 kalinya.

“berhentilah bercanda Tora!”

***

Aku tidak suka melihatnya sedih. Aku tidak suka melihat sinar matanya redup. Aku tidak suka melihatnya menangis.
Aku baru sekali melihatnya menangis. Saat itu dia menangis sesudah mendengar berita bahwa orang yg dia sukai akan menikah dengan orang lain. Dan berita itu dia dengar langsung dari orang yg dia sukai itu. Dia pura2 senang dan tersenyum, tapi saat orang itu beranjak pergi dia menangis. Hatiku perih melihatnya menangis seperti itu, ingin rasanya aku memeluknya detik itu juga. Tapi aku tahu kalau dia tidak ingin siapapun tahu perasaannya terhadap orang itu.
Bagaimana aku tahu? Kau tahu aku selalu memperhatikannya, bagaimana pancaran matanya bersinar saat bersama orang itu. Itu pancaran mata orang yang jatuh cinta. Dan pancaran mata itu tiba2 redup saat orang yg dia sukai bahwa dia menyukai orang lain.

Dan sekarang aku melihatnya menangis lagi, walaupun dia menahannya agar tidak tumpah. Tapi dia tidak kuasa menahan air matanya sekarang, karena menyaksikan orang yang dia cintai berdiri di altar mengucap janji pernikahan sehidup semati.
Hatiku sakit melihatnya begini lagi. Akhirnya aku putuskan untuk merangkulnya dan mengelus2 rambutnya walaupun aku sangat ingin memeluknya, membiarkan dia menangis sejadinya di dadaku.
Dan seperti biasanya aku bercanda padanya untuk menghilangkan kesedihannya. Walaupun balasannya selalu sama, dia menginjak kakiku.
“berhentilah bercanda Tora!” ucapmu marah sambil memelototiku.
Ah aku lupa mengatakan kalau aku juga suka melihat pancaran matanya ketika sedang marah padaku. Manis sekali.

“aku tidak bercanda. Aku serius ingin kita berdiri di altar itu suatu saat nanti.” ucapku mantap dengan penekanan disetiap kata2ku.

Dia terdiam dan memandangku dalam2 aku tersenyum. Lalu kuturunkan tangan kananku dari bahunya dan kuberanikan diri memegang tangan kirinya.

“kenaap diam? Aku berjanji akan membuatmu berdiri disana bersamaku.”
dia menunduk lalu mengangkat kepalanya. Dia tersenyum.
“aku tunggu datangnya hari itu.” ucapnya dengan semu merah dipipinya. Cantik sekali.
Akhirnya dia mau membuka hatinya untukku.

*owari*

A/N: sebenernya aku bikin bagian Shou juga, tapi males ngetik *plakkk* aku kasih judul wedding dress soalnya terinsfirasi lagunya si om mowhak aka Taeyang ihihiihi XDDDDDD

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: